Target pemerintah untuk menekan suku bunga kredit hingga menyentuh single digit menurut pengamat ekonomi Aviliani sepertinya akan sulit dicapai. Apalagi perbankan selama ini masih enggan menurunkan suku bunga kredit, lantaran likuiditas yang sangat ketat.

Namun perbankan nasional secara perlahan mulai menurunkan suku bunga kredit menjadi single digit dan pemerintah dinilai harus berkontribusi dengan menurunkan suku bunga obligasi. Pasalnya jika tidak, maka obligasi akan lebih menarik ketimbang kredit.

“BI baru saja launch bahwa reverensi suku bunga baru yaitu 7 days Repo Rate sebesar 5,5%. Tapi pemerintah mengeluarkan obligasi bunganya 8,3%. Kira-kira orang milih mana? Pilih obligasi dong,” katanya dalam acara Manajer Forum XXIV di Jakarta, Selasa (17/5/2016).

Kebijakan tersebut lanjut dia seharusnya diimbangi dengan instrumen lain sehingga berdampak terhadap penurunan suku bunga kredit di Indonesia. “Akibatnya likuiditas bank jadi kering. Karena orang larinya obligasi. Jadi sulit mempertahankan suku bunga single digit, kalau instrumennya tidak bersamaan,” sambung dia.

Selain itu, Aviliani menambahkan bahwa pemberlakuan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) juga dinilai dapat memperbesar likuiditas perbankan. Hingga pada akhirnya, suku bunga perbankan dapat kembali diturunkan.

“Nah itu (tax amnesty) efeknya jadi tambahan pajak tahun itu. Kalau itu dilakukan mungkin bunga bisa single digit. Karena akan ada sangat besar likuiditas. Masuk saja Rp3 triliun (dari tax amnesty) itu aka bisa turunkan suku bunga,” tandasnya.

Sumber : //ekbis.sindonews.com